Pada saat tanaman karet masih muda yaitu dibawah umur 3 tahun, lahan diantara tanaman karet masih dapat dimanfaatkan dengan menanam tanaman kedelai. Pada saat itu sinar matahari belum merupakan faktor pembatas, sedangkan hidromineral dapat dimanfaatkan dengan memodifikasi pola tanam dan teknik budidaya.

Keberhasilan penerapan pola tanam pada tanaman pangan sangat bergantung pada: 

Teknik pengelolaan tanah, dimana pengolahan tanah cukup dengan pencangkulan ringan saja untuk melindungi lapisan top soil dari erosi; 
Penggunaan varietas – varietas unggul yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat; 
Penambahan bahan organik ke dalam tanah dengan cara mengembalikan sisa-sisa panen ke dalam tanah; 
Pemberian unsur hara ke dalam tanah melalui pemupukan yang sesuai dengan dosis anjuran, dan pengapuran untuk tanaman kacang-kacangan; 
Pemeliharaan tanaman harus baik, yaitu melalui penyiangan serta pengendalian hama dan penyakit tanaman yang dilakukan secara teratur.

Dengan mengusahakan tanaman kedelai diantara pertanaman karet muda ini maka akan diperoleh keuntungan yaitu menambah sumber pendapatan pada masa tanaman karet belum menghasilkan, membantu pengendalian gulma dan menyuburkan tanah karena ada tambahan pemberian pupuk organik dan terjadi proses fiksasi nitrogen oleh tanaman kedelai.

Teknik Budidaya Tanaman Kedelai

Persiapan Lahan : 

Bersihkan lahan dari rerumputan, dan jerami padi ditumpuk pada barisan tanaman karet yang nantinya akan digunakan sebagai mulsa pada tanaman kedelai. 
Pengolahan tanah dilakukan secara ringan (minimum tillage) atau tanpa olah tanah (zero tillage); 
Pengapuran diberikan sebanyak 600 kg/ha, diberikan dengan cara larikan.

Penanaman

Penanaman kedelai dilakukan setelah panen padi yaitu pada bulan Maret-April. Varietas yang digunakan adalah varietas wilis. Kebutuhan benih sebanyak 28 kg/ha. Cara Penanaman dilakukan dengan sistim tugal, dengan jarak tanam 40 x 15 cm sedalam 3-5 cm dengan jumlah biji 3-5 biji per lubang. Sebelum ditanam benih diinokulasikan dengan inokulum rhizooobium (legin) atau dicampur dengan tanah bekas tanaman kedelai. Sepuluh (10) kg benih kedelai dicampur dengan 60 gram rhizogen. Jarak terdekat barisan tanaman kedelai dengan karet adalah 100 cm.

Pemupukan

Pupuk yang digunakan adalah pupuk urea, SP-36 dan KCl dengan dosis Urea 35 kg/ha, SP-36 105 kg/ha, dan KCl 52,5 kg/ha. Seluruh pupuk diberikan satu kali, yaitu pada saat tanaman berumur satu minggu, dengan cara ditugal atau diletakkan dalam larikan dengan jarak 5-10 cm dari barisan tanaman, kemudian ditutup dengan tanah.

Penyulaman dan Penyiangan

Penyulaman pada tanaman kedelai harus segera dilakukan, yaitu antara 7-10 hari setelah tanam. Untuk penyulaman ini digunakan benih yang sama dengan benih yang ditanam agar pertanaman seragam. Penyiangan dilakukan pada saat umur tanaman 2 dan 4 minggu atau disesuaikan dengan kondisi gulma yang ada. Pengendalian gulma ini dapat juga dilakukan dengan menggunakan herbisida purna tumbuh.

Pengendalian hama dan penyakit

Pengendalian hama dan penyakit pada tanaman kedelai dilakukan dengan prinsip Pengendalian Hama Terpadu. Penggunaan pestisida hanya dilakukan apabila serangan di atas ambang ekonomi.

Panen

Kedelai dapat dipanen apabila ada tanda-tanda yaitu daun sudah menguning, pohon kering dan berwarna cokelat. Cara panen yaitu dengan memotong pangkal batang dengan sabit yang tajam. 

Sumber: Usahatani Tanaman Pangan Diantara Karet Muda. Departemen Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian . Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Tengah.

Advertisements

Artikel Terkait Lainnya

I. PENDAHULUAN Produksi mentimun di Indonesia masih sangat rendah padahal potensinya masih bisa ditingkatkan. Untuk itu PT. Natural Nusantara berupaya turut membantu meningkatkan produksi secara Kualitas, Kuantitas dan Kelestarian (K-3). II. SYARAT PERTUMBUHAN 2.1. Iklim Adaptasi mentimun pada berbagai iklim cukup tinggi, namun pertumbuhan optimum pada iklim kering. Cukup mendapat sinar matahari, temperatur (21,1 – […]

Penyakit Tanaman Timun (Cucumis satifus)  Penyakit PadaTanaman Mentimun. a. Busuk daun (Downy mildew) Penyebab : Pseudoperonospora cubensis Berk et Curt. Menginfeksi kulit daun padakelembaban udara tinggi, temperatur 16 – 22°C dan berembun atau berkabut.Gejala : daun berbercak kuning dan berjamur, warna daun akan menjadi coklat danbusuk. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam.  b. Penyakit […]

Budidaya Tanaman Timun (Cucumis satifus) Mentimun, timun, atau ketimun (Cucumis sativus L.); suku labu-labuan atau Cucurbitaceae) merupakan tumbuhan yang menghasilkan buah yang dapat dimakan. Buahnya biasanya dipanen ketika belum masak benar untuk dijadikan sayuran atau penyegar, tergantung jenisnya. Mentimun dapat ditemukan di berbagai hidangan dari seluruh dunia dan memiliki kandungan air yang cukup banyak di […]

Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Jarak Indonesia dengan iklim tropis, lahan yang luas, serta keanekaragaman hayati wilayah daratan merupakan keunggulan komperatif bagi pengembangan bahan bakar yang berasal dari tumbuhan. salah satu dari kelompok ttanaman non-pangan yang direkomendasikan adalah tanaman jarak pagar (Jarropha curcas). Sudah menjadi tekad pemerintah untuk mengembangkan minyak jarak pagar menjadi biodiesel, biokerosin, dan […]

Hal yang paling tidak disukai oleh para petani adalah ketika tanaman yang mereka terserang oleh hama penyakit, hama penyakit sering datang pada musim penghujan maupun musim kemarau. Pada musim penghujan para petani tidak perlu repot melakukan penyiraman terhadap tanaman yang mereka tanam, namun resiko terkena hama penyakit jauh lebih tinggi dibandingkan dengan musim kemarau. Mentimun […]