Advertisements

Pemerintah tidak boleh latah mengikuti keinginan negara lain supaya perluasan lahan sawit dimoratorium. Apabila benar berjalan, moratorium akan menabrak aturan investasi yang dibuat pemerintah.

“Menko Perekonomian jangan latah mengikuti keinginan Bos Unilever. Indonesia ini berbeda dengan negara maju yang teknologinya sudah maju dan riset kita bagus.  Moratorium ini latah karena desakan asing karena negara maju selalu mendesaknya,” kata Firman Subagyo.

Statement Firman Subagyo ini menyikapi pernyataan Sofyan Djalil selaku Menteri Bidang Perekonomian RI pasca pertemuan CEO Unilever Global Paul Polman dan Presiden RI Joko Widodo di Istana Negara pada 27 Februari 2015. Waktu itu, Sofyan Djalil menyebutkan pemerintah sedang membuat kajian mendalam mengenai penghentian sementara (moratorium) perluasan lahan sawit. Pasalnya, luas lahan sawit sekarang ini sudah mencapai 10 juta hektare.

Firman Subagyo mengingatkan Sofyan Djalil sebaiknya tidak mengeluarkan pernyataan moratorium karena menerima petinggi  Unilever. Yang menarik, kenapa buat statement setelah pertemuan bos unilever. Harus dipahami, bahwa  minyak nabati   tidak mampu bersaing dengan CPO karena kualitasnya sudah terbukti lebih bagus.

Dia mengingatkan bahwa industri kelapa sawit kerap dikaitkan  perusakan lingkungan padahal itu belum tentu benar. Itu sebabnya, negara ini harus mewaspadai arah globalisasi  dimana kompetisi bunga matahari dan minyak nabati lainnya tidak bisa ditandingi CPO.

“Untuk itu, jangan sampai pemerintah latah dalam membuat kebijakan. Dalam tata kelola, aspek ekonomi dan lingkungan diperhatikan serta aspek sosial mendapatkan perlakuan sama. Sehingga akan terjadi sustainable dalam pembangunan sawit,” paparnya.  

Lebih lanjut, kata Firman, dalam sebuah kebijakan yang dibuat pemerintah sebaiknya tidak mematikan hak rakyat dan pelaku usaha yang dilindungi regulasi. Maka, hak hidup pengusaha nasional yang menjadi supporting pendapatan negara, itu tetap jadi perhatian pula. Pemerintah harus paham dan menyadari bahwa sektor pertanian termasuk di dalamnya perkebunan menjadi sumber pendapatan negara.

Politikus Partai Golkar ini menyebutkan dalam membuat regulasi hendaknya pemerintah tidak  seperti orang mimpi. Jadi, bangun tidur langsung membuat kebijakan. Padahal, seharusnya ada kajian mendalam dan pemangku kepentingan diajak bicara

(Lebih lengkap silakan baca Majalah SAWIT INDONESIA Edisi Maret 2015)

Advertisements

Artikel Terkait Lainnya

JAKARTA – Manajer Program Hukum dan Masyarakat Epistema Institute, Yance Arizona mengutarakan, eksistensi masyarakat adat sangat perlu diakui negara. Bahkan, tak cukup hanya pengakuan. Putusan Mahkamah Konstitusi No. 35/PUU-X/2012 dilapanagn faktanya masih banyak terjadi pengabaian terhadap hak-hak masyarakat adat. Yance menyatakan, kalau sebelumnya hutan adat adalah hutan negara, setelah putusan MK 35/2012, hutan adat adalah […]

Advertisements Medan – Jaksa Agung Muhammad Prasetyo mengatakan proses eksekusi lahan sawit milik pengusaha DL Sitorus seluas 47 ribu ha di Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara, sudah selesai. Kejaksaan Agung sudah menyerahkan lahan tersebut kepada Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup. “Perkara DL Sitorus menyangkut barang bukti seluas 47 ribu ha sudah diserahkan secara […]

KOTA KINABALU – Menteri Sains, Teknologi dan Inovasi, Datuk Ewon Ebin mengatakan, salah satu dari tiga proyek yang memanfaatkan minyak sawit atau biorefinery di Sabah dan Sarawak, telah disetujui oleh komite Bioeconomy Transformation Programme (BTP). Genting Plantations Berhad bakal berkolaborasi dengan Elevance Renewable Sciences, sebuah perusahaan kimia asal Amerika Serikat, untuk membangun biorefinery. Seperti tulis […]

Advertisements Amerika Serikat – Merujuk laporan Lembaga Swadaya Masyarakat Lingkungan dunia, Forest Heroes, menuding perusahaan sawit PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) bertaggung jawab terhadap kerusakan hutan tropis. Sebelumnya PT Astra Agro Lestari Tbk telah berjanji tidak bakal membangun perkebunan kelapa sawit di hutan tropis, tetapi Forest Heroes menganggap janji PT Astra Agro […]

HERSHEY – Perusahaan Hershey, April 2015 melaporkan hasil penggunaan bahan baku dari sumber minyak sawit berkelanjutan, yang didukung lewat kerjasama strategis dengan The Forest Trust (TFT). Tercatat Harshey, telah menggunakan minyak sawit berkelanjutan sebanyak 94% dari semua pabrik yang menggunakan minyak sawit secara global. Kabarya Harshey, sedang melakukan pemetaan rantai pasok hingga ke perkebunan, yang […]